Waitatiri, salah satu penerima beasiswa LPDP tahun 2022 yang saat ini tengah menempuh pendidikan S2 nya di Harvard Graduate School of Education, Amerika Serikat. Wanita kelahiran Bekasi tahun 1994 ini merupakan alumni Universitas Indonesia jurusan Sastra Jerman. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 nya, Wai sempat menjadi guru bahasa Jerman sebelum akhirnya berkarir sebagai copywriter selama kurang lebih 6 tahun.
Sejak masa kuliah S1, Wai memang dikenal memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi. Ia aktif mengadakan penggalangan dana dan program donasi bagi korban bencana yang terjadi di Indonesia. Dan dimasa pandemi covid-19, Wai tergerak untuk membantu anak-anak di sebuah daerah di Jakarta Selatan yang ternyata selama masa pandemi mengalami kesulitan untuk mengikuti pembelajaran secara online, karena tidak memiliki smartphone.
Wai yang awalnya tidak pernah berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, berubah ketika Wai menyaksikan ironi pendidikan yang ada saat pandemi terjadi. Lewat kejadian itu Wai menemukan visi hidupnya, mempermudah akses pendidikan untuk anak-anak Indonesia agar tidak terbebani biaya pendidikan kini menjadi tujuan hidupnya.
Ironi Pendidikan di Kota Besar

Waitatiri bertemu dengan ironi bahwa banyak anak di kota besar seperti Jakarta Selatan, justru mengalami kesulitan untuk mengakses kelas online karena tidak memiliki handphone. Pada suatu kesempatan, Wai berbincang dengan salah seorang Ibu yang anaknya sedang juga mengalami kesulitan mengakses sekolah karena tidak memiliki handphone. Sang Ibu menceritakan dilema yang ia dan keluarganya alami, “daripada nggak bisa makan, mending nggak usah sekolah mbak.”
Perkataan ini yang terus mengusik hati Wai, dimana warga di daerah tersebut harus dihadapkan dengan dua pilihan sulit antara makan atau sekolah. Inilah yang menjadi awal lahirnya Ponsel Untuk Sekolah, sebuah gerakan yang membawa Wai untuk melangkah lebih jauh.
Baca juga: Mario Matinahoru, Memilih D3 Setelah S1 Untuk Membangun Pendidikan di Raja Ampat
Menginisiasi Program “Ponsel Untuk Sekolah”

Waitatiri memulai gerakan Ponsel Untuk Sekolah melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Satu unggahan itu mendapatkan respon yang sangat baik dari rekan-rekan Wai, yang akhirnya juga tergerak untuk terlibat dalam gerakan ini. Hasilnya, terkumpul sejumlah dana yang membuat Ponsel Untuk Sekolah bisa menyediakan 20 ponsel gratis, lengkap dengan paket internet. Ponsel ini kemudian diberikan kepada anak-anak sekolah dasar yang ada di wilayah itu.
Seiring berjalannya waktu, Wai menyadari bahwa hal baik ini tidak boleh berhenti hanya disini. Jika di kota-kota besar saja masih mengalami kesulitan seperti ini, lalu bagaimana dengan anak-anak di daerah pelosok?
Tantangan untuk dapat menjangkau anak-anak di daerah pelosok jelas jauh lebih rumit. Keterbatasan jarak, kesenjangan ekonomi, ketersediaan layanan internet, dan faktor-faktor lainnya membuat Wai sadar bahwa akan sangat sulit untuk menjangkau semuanya sendirian. Maka dari itu, Wai mulai mencari alternatif sarana pendidikan yang lebih mudah, murah, dan dapat menjangkau bahkan hingga ke pelosok nusantara.
Mencari Jawaban Alternatif Sarana Pendidikan

Pertanyaan ini menuntun Wai mencari sarana pendidikan alternatif yang mudah, murah, dan dapat menjangkau hingga ke pelosok negeri. Membuat program TV edukatif dan menarik adalah jawabannya. Selain mudah, dan terjangkau, televisi masih menjadi media yang paling banyak di konsumsi masyarakat di Indonesia.
Waitatiri memulai perjalanannya untuk mencari tahu lebih banyak tentang program TV edukatif, yang kemudian membawanya pada pertemuan dengan Sesame Street. Saat melakukan riset program TV edukatif bagi anak-anak, Wai menemukan fakta bahwa Sesame Street merupakan perintis program TV yang menggabungkan pendidikan dan hiburan bagi anak-anak. Bahkan hingga saat ini, Sesame Street merupakan program TV edukatif nomor 1 di Amerika Serikat.
Setelah mempelajari lebih dalam mengenai Sesame Street dan dunia pertelevisian, Wai menyadari bahwa ilmu dan pengalaman yang dimilikinya saat ini terbatas. Ia membutuhkan lebih banyak ilmu dan pengalaman untuk merealisasikan mimpinya. Inilah momen dimana Wai menyadari, bahwa ia perlu untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 di bidang pendidikan.
Harvard Graduate School of Education & LPDP

Salah satu inisiator dari Sesame Street yang menginspirasi Wai sejak awal, ternyata merupakan profesor di Harvard Graduate School of Education (HGSE). Semakin penasaran, Wai pun akhirnya mencari tau lebih dalam mengenai HGSE dan mendapati bahwa Sesame Street telah didukung oleh HGSE sejak awal debutnya. Inilah yang mendorong Wai memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di Harvard Graduate School of Education.
Setelah dinyatakan lolos menjadi mahasiswa Harvard Graduate School of Education, barulah Wai mengikuti seleksi LPDP yang pada saat itu sedang membuka pendaftaran. Ini merupakan kali pertama Wai mencoba untuk mendaftar S2 dan beasiswa, demi mewujudkan misinya bagi pendidikan anak-anak Indonesia. Hasilnya, Wai berhasil menjadi awardee LPDP pada tahun 2022.
Menemukan Tantangan Lain

Setelah setahun menjalani pendidikan S2 di Harvard Graduate School of Education, Wai menemukan tantangan lain di dunia pendidikan saat ini. Bukan lagi keterbatasan ekonomi, tetapi menurunnya minat belajar serta pendidikan yang dirasa tidak menarik lagi. Hal ini yang semakin mendorong Wai untuk merealisasikan mimpinya membuat TV show edukatif yang menarik untuk anak-anak.
Karena Wai percaya bahwa, seumur hidup seseorang terutama anak-anak, butuh untuk terus dikelilingi oleh pendidikan.
Harapan Memajukan Pendidikan di Indonesia

Waitatiri benar-benar menaruh perhatian mendalam terhadap pendidikan secara menyeluruh, mulai dari karakter, moral, hingga pola pikir. Ia berharap mimpinya untuk menciptakan sarana pembelajaran yang menarik, mudah, murah dan dapat menjangkau hingga ke pelosok negeri melalui program acara TV edukasi, dapat terlaksana dan mendapat dukungan dari semua pihak.
Menurut Wai, kemajuan pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab semua orang, dan oleh karena itu untuk mewujudkannya haruslah diusahakan bersama-sama.
“I know that before I die, I want to contribute in making education more accessible for the less-privileged children throughout Indonesia” – Waitatiri

