Hampir gagal untuk melanjutkan pendidikan di jenjang universitas, membuat Mario Matinahoru pemuda asal Raja Ampat ini harus merubah rencananya dengan mengganti jurusan kuliahnya. Mario yang semula ingin melanjutkan pendidikan pada jurusan Hubungan Internasional di salah satu universitas di Yogyakarta, justru akhirnya menjadi alumni dari Universitas Victory Sorong sebagai Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2019.
Setelah lulus S1, Mario kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan sebuah kenyataan yang pedih. Tidak ada kemajuan yang terjadi pada pendidikan dan literasi bagi anak-anak di kampungnya. Kesulitan dan keterbatasan yang ia alami dahulu, masih juga dialami oleh anak-anak di kampungnya.
Disinilah Mario Matinahoru menemukan panggilan hidupnya. Mario bertekad untuk melakukan perubahan dengan menciptakan Learning Center, pendidikan informal yang berfokus pada peningkatan literasi. Salah satunya melalui Taman Baca Japojey. Keinginannya sederhana, agar anak-anak di Raja Ampat tidak lagi mengalami kesulitan dan keterbatasan seperti yang ia rasakan.
Learning Center untuk Anak-Anak Raja Ampat

Kondisi pendidikan di Limalas, Raja Ampat saat Mario masih kecil sangatlah memprihatinkan. Tidak ada PAUD maupun TK, serta minimnya tenaga pendidik yang mengakibatkan 6 kelas di jenjang pendidikan Sekolah Dasar hanya diajar oleh 1 guru. Bahkan, agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, Mario harus pindah ke ke daerah Kabupaten yang berjarak 23km dari kampung halamannya untuk menempuh pendidikan SMP. Kemudian kembali merantau ke kota Sorong untuk menempuh pendidikan SMA yang membutuhkan waktu 12 jam perjalanan dengan Kapal dari kampung halamannya ke Sorong.
Tidak hanya kendala dan perjuangan untuk anak-anak dapat bersekolah, tetapi akses kepada literasi juga begitu sulit pada masa itu. Buku bacaan yang tersedia sangat sedikit dan buku yang tersedia mayoritas adalah buku bacaan lama. Contoh saja untuk majalah Bobo, Mario biasanya baru bisa membaca majalah Bobo edisi Januari pada bulan Agustus/September. Kesulitan-kesulitan inilah yang masih dihadapi oleh anak-anak di Limalas bahkan sampai saat ia telah menyelesaikan pendidikan Sarjananya. Alhasil, banyak anak-anak usia sekolah di Raja Ampat yang masih belum bisa membaca maupun bersekolah.
Karena pengalaman inilah, Mario akhirnya memutuskan untuk menciptakan sebuah sekolah informal; Learning Center bagi anak-anak di Raja Ampat. Pada akhir tahun 2020, Mario bersama dengan salah satu NGO dan salah satu lembaga yang bergerak di bidang literasi, Taman Baca Inovator membuka taman baca bagi anak-anak yang dapat diakses secara gratis oleh siapa saja. Taman Baca Japojey pun hadir, yang disambut baik oleh anak-anak disana.
Taman Baca Japojey diresmikan pada awal tahun 2021, Meski masih banyak mendapat tentangan dari lingkungan bahkan pemerintah, Mario tidak menyerah dan terus mengupayakan agar mimpinya dapat terwujud. Ia mengupayakan segala sesuatu agar Learning Center itu bisa terus berjalan. Mario bahkan menggunakan pekarangan rumah orang tuanya sebagai lokasi Learning Center sementara karena belum mendapatkan tempat. Selain itu, Mario juga bertekad untuk membekali dirinya dengan ilmu dan keterampilan lanjutan demi keberlangsungan project ini.
Baca juga: Waitatiri, Menjawab Masalah Pendidikan Dengan Program TV Edukatif
Mengambil D3 Setelah S1

Sejak memulai project Taman Baca Japojey, Mario Matinahoru semakin menyadari panggilannya di dunia pendidikan. Dalam persiapannya untuk melanjutkan pendidikan, Mario memilih untuk melanjutkan studinya di College atau di Indonesia lebih dikenal dengan sekolah kejuruan dengan program diploma. Keputusan ini menjadi hal yang sangat tidak lazim bagi budaya pendidikan yang diikuti oleh masyarakat di Indonesia.
Umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan S1 pendidikan lanjutan yang akan diambil pastilah S2 atau Master Degree. Sangat jarang untuk seorang sarjana kemudian mengambil jenjang pendidikan yang ‘mundur’ seperti yang dilakukan oleh Mario. Mario melanjutkan pendidikannya di Northampton Community College dengan jurusan Early Childhood Education and Development dengan beasiswa dari CCI Program, yang akan ditempuhnya selama kurang lebih 1 tahun.
Alasan Mario Matinahoru memutuskan untuk mengambil jenjang dan program pendidikan ini, karena Ia menemukan fakta bahwa pendidikan di College ini menyediakan hal-hal yang sangat ia butuhkan. Untuk mengembangankan project Taman Baca Japojey, Mario membutuhkan pengetahuan yang lebih spesifik mengenai pendidikan, khususnya pada anak-anak usia dini. Selain itu, Ia akan mendapatkan berbagai kesempatan praktik mengajar, membuat project tentang pendidikan dan kesempatan untuk magang di institusi pendidikan. Kesempatan belajar secara teori dan praktek dalam waktu yang singkat namun berkualitas.
CCI Program

Mario awalnya memang ‘memiliki rencana’ untuk mengambil S2, sebelum akhirnya dikenalkan dengan CCI Program oleh temannya yang juga merupakan awardee CCI. CCI merupakan bagian dari program beasiswa Fullbright, beasiswa ini berfokus pada peningkatan kualitas di berbagai sektor termasuk pendidikan anak-anak, khususnya di negara-negara berkembang. Visi dari CCI Program pun ternyata sama dengan visi yang Mario miliki bagi anak-anak dan pendidikan, hingga ia pun memantapkan langkahnya untuk melanjutkan pendidikan dengan CCI Program.
CCI Program sendiri merupakan program pendidikan non-gelar di Community College Amerika selama satu tahun pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknik, kualitas kepemimpinan dan kemampuan berbahasa inggris yang disertai dengan kesempatan untuk melakukan kegiatan magang profesional.
Setelah mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan, Mario pun mendaftar dan berhasil mendapatkan beasiswa dari CCI Program. Saat ini, Mario sedang menempuh pendidikan di Northampton Community College sambil terus mengembangkan project Taman baca Japojey.
Impian Untuk Masa Depan

Kesempatan untuk menempuh ilmu di negeri seberang telah membangkitkan semangat banyak anak-anak di Raja Ampat untuk terus belajar dan mengikuti jejaknya. Mario percaya, bahwa apa yang dia nikmati saat ini hanyalah pintu pembuka bagi anak-anak lainnya untuk dapat menikmati pengalaman bahkan lebih dari apa yang sudah dia dapatkan.
Mario berharap, akan ada semakin banyak pihak yang mau bersama-sama dengannya untuk memajukan pendidikan anak-anak, khususnya para orang tua dan pemerintah setempat. Anak-anak tidak boleh kehilangan haknya untuk menikmati dan memperoleh pendidikan.
“Kita mungkin mulai dari start yang berbeda dengan orang lain, tapi kita punya kesempatan yang sama untuk mencapai garis finish yang sama.” – Mario Matinahoru

