Terlahir sebagai penyandang disabilitas tuna daksa pada kedua tangan, tidak menghalangi Umar Syaroni untuk meraih pendidikan tinggi. Pria yang lahir di Jeddah, Arab Saudi ini, selalu mencetak prestasi gemilang di setiap jenjang pendidikannya.
Baca juga: Melcian F. Pagalu, Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga Hingga S2 Dengan Beasiswa LPDP
Dua Kali Menjadi Awardee LPDP

Setelah lulus sebagai mahasiswa terbaik di jenjang S1, Umar melanjutkan studi S2 di Universitas Airlangga dengan beasiswa LPDP. Tak berhenti di situ, hanya dua bulan setelah meraih gelar Magister Media Komunikasi pada tahun 2022, ia kembali memperoleh beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan S3.
Umar, yang awalnya berpikir bahwa pendidikan hanya untuk mereka yang terlahir ‘sempurna,’ berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu melampaui batasan, bahkan menjadi yang pertama dalam keluarganya yang menempuh pendidikan hingga S3.
Buah Manis dari Kesabaran
Perjalanan Umar Syaroni untuk mendapatkan akses pendidikan adalah proses yang panjang dan penuh tantangan. Ketika memasuki usia sekolah dasar, ia pernah ditolak oleh pihak sekolah hanya karena kondisinya yang berbeda. Namun, ibunya dengan sabar mengajarinya menulis dan berjuang agar Umar bisa bersekolah, perjuangan yang akhirnya membuahkan hasil dua tahun kemudian.
Saat lulus SMA, banyak orang yang meragukan masa depannya, mengatakan bahwa dengan kondisi fisik seperti Umar, ia tidak akan memiliki masa depan. Ditambah lagi, sebagai cucu petani dan anak dari tenaga kerja Indonesia (TKI), Umar bahkan tidak berani bermimpi untuk bisa berkuliah, apalagi hingga S3 di University of Sydney.
Baca juga: 10 Universitas Terbaik di Australia 2024
Mengukir Prestasi Tanpa Henti
Tidak hanya lulus sebagai mahasiswa terbaik di jenjang S1 dan meraih beasiswa LPDP, Umar juga telah membangun karir yang gemilang. Sejak 2019, ia resmi bekerja sebagai staf di Humas dan Protokoler Biro Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, praktisi Public Relations, serta pemenang penghargaan Icon Public Relations Indonesia 2020.
Saat ini, Umar sedang menempuh studi Doktor (PhD in Arts and Social Sciences) dengan jurusan Media dan Komunikasi di University of Sydney. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan di Rumah Disabilitas Pusat dan menjadi mentor pendidikan luar negeri melalui media sosial pribadinya.
Restu dari Orang Tua
Sejak lama, Umar sudah bercita-cita untuk menempuh studi di Australia. Ia memilih negara tersebut untuk belajar dari para ahli dalam bidang ‘disabilities in digital societies,’ mengingat Australia dikenal memiliki implementasi inklusi disabilitas yang baik.
Namun, saat itu, ia belum mendapat restu dari kedua orang tuanya. Tak mudah menyerah, Umar gigih meyakinkan mereka, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata dengan mempersiapkan segala sesuatunya sejak Desember 2021.
Butuh waktu tiga tahun untuk mendapatkan restu dari orang tuanya, hingga akhirnya pada 4 Mei 2022, restu itu datang. Dengan mantap, Umar mendaftar beasiswa LPDP tahap 2 pada tahun yang sama.
Impian untuk Pendidikan Indonesia
Ke depan, Umar memiliki harapan besar agar pendidikan di Indonesia bisa sepenuhnya memberdayakan penyandang disabilitas. Inklusivitas dalam pendidikan bagi mereka adalah salah satu hal yang terus ia perjuangkan hingga saat ini.
Umar bermimpi menjadi seorang Guru Besar dan pengajar yang menanamkan nilai-nilai penghargaan dan toleransi terhadap perbedaan.
Baca juga: Waitatiri, Menjawab Masalah Pendidikan Dengan Program TV Edukatif
“Jika mereka memiliki dosen yang disabilitas, mereka akan menyadari bahwa Indonesia itu beragam, termasuk dalam jenis disabilitas. Dengan demikian, mereka akan memiliki pemikiran yang open minded dan menghargai perbedaan.” – Umar Syaroni