Monday, February 16, 2026
HomeBook ClubReview Buku Educated Karya Tara Westover

Review Buku Educated Karya Tara Westover

Mungkin bisa dikatakan salah satu buku memoir terbaik yang pernah aku baca. Bukan sekedar kisah tentang perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan pendidikan yang layak, ternyata jauh lebih dalam dari itu.

“Aku baru berusia tujuh tahun, tetapi aku telah memahami satu fakta ini, lebih dari yang lainnya, yang membuat keluargaku berbeda adalah: kami tidak pergi ke sekolah.”

Membaca buku ini kadang terasa seperti membaca novel, karena begitu banyak kejadian emosional yang membuat kita menjadi simpati dengan Tara Westover sebagai karakter utamanya. Tara mengalami pelecehan fisik dan verbal di tangan anggota keluarganya sendiri. 

Di buku ini, Tara berusaha menyampaikan peristiwa yang dialaminya dengan tidak bias. Tara menyertakan catatan kaki untuk merinci bagaimana ingatannya tentang peristiwa tertentu dengan ingatan berbeda dari anggota keluarganya yang lain.

Yang paling menarik simpati bagi aku pribadi tentu saja adalah Tara Westover sendiri. Terlepas dari semua kesulitan yang dia temui, dia terus maju dan mampu mencapai tujuannya. Dia memiliki keberanian untuk menentang keluarganya dan meninggalkan semua keadaan masa lalunya untuk mengubah hidupnya. Kisahnya menunjukkan bahwa bahkan di saat-saat tergelap sekalipun, seseorang dapat menemukan harapan.

Baca juga: 5 Buku Rekomendasi Bill Gates, Favorit Sepanjang Masa

Buku Ini Tentang Apa?

Sumber gambar: thetimes.co.uk

Buku Educated karya Tara Westover adalah sebuah memoir atau kisah nyata dari Tara Westover. Di dalam buku ini Tara menceritakan bagaimana dirinya tumbuh di tengah keluarga penganut mormon yang sangat konservatif, hal ini membuat Tara dan semua saudaranya tidak pernah menginjakan kaki di ruang kelas, tidak pernah berobat ke dokter, bahkan tidak memiliki akta kelahiran. 

Tara baru merasakan pendidikan formal saat dia berusia 16 tahun. Pertemuannya pada dunia pendidikan membawanya pada banyak perubahan besar di dalam hidupnya, dari seorang yang tidak percaya akan pendidikan formal sampai akhirnya bisa mengenyam pendidikan di institusi pendidikan ternama dunia seperti Cambridge dan Harvard hingga meraih gelar Ph.D.

Bagian/Cerita yang Menarik di Buku Ini

Sumber gambar: scribd.com

Sebenarnya ada banyak banget cerita-cerita yang menarik dari buku ini, berikut adalah beberapa bagian cerita yang berkesan dan bagian yang membuat aku sebagai pembaca merasakan simpati kepada Tara di dalam buku ini: 

Holocaust

Suatu hari di kelas sejarah seni, Tara bertanya tentang arti kata Holocaust (penganiayaan dan pembantaian orang Yahudi Eropa oleh rezim Nazi Jerman). Tapi semua orang menganggap dia bercanda, semua orang merespon pertanyaannya dengan dingin. 

Setelah kelas selesai Tara meneliti sendiri arti kata Holocaust, Tara merasakan ngeri dan syok yang luar biasa, selain karena dia telah mengetahui sesuatu kejadian mengerikan, dia juga syok menyadari ketidaktahuannya.   

“Aku pernah melihat mahasiswa lain mengajukan pertanyaan, jadi aku mengangkat tangan. Profesor itu menunjukku, dan aku membaca kalimat itu dengan lantang. Ketika aku sampai pada kata itu, aku berhenti. “Aku tidak tahu kata ini,” kataku. “Apa artinya?” Tiba-tiba semua sunyi. Bukan keheningan, bukan redaman kebisingan, tetapi kesunyian yang mencengkeram. Tidak ada kertas yang dibolak-balik, tidak ada pensil yang digoreskan. Bibis profesor itu menegang. “Terimakasih untuk itu,” katanya, lalu kembali ke catatannya.” – Bab 17. Halaman 235.

Tuduhan Hamil

Dari sekian ketidaktahuan dari Tara, mungkin ini yang paling menarik simpati. Waktu usianya lima belas tahun, Shawn (kakaknya Tara) menyampaikan ke Ayahnya kalau dia mendengar  pergunjingan anak-anak di kota tentang Tara, intinya Tara punya reputasi yang buruk. Dari situ Ayahnya langsung beranggapan kalau Tara pasti hamil. Yang membuat terenyuh adalah Tara percaya, karena ketidaktahuannya Tara berpikir mungkin saja dia hamil.

“Apakah aku hamil? Aku tidak yakin. Aku mempertimbangkan setiap interaksi yang kulakukan dengan anak laki-laki, setiap pandangan, setiap sentuhan. Aku berjalan ke cermin dan mengangkat bajuku, lalu mengusap perutku, memeriksanya seinci demi seinci dan berpikir, Mungkin. Aku belum pernah mencium anak laki-laki. Aku pernah menyaksikan proses kelahiran, tapi aku tidak diberi satu fakta pun tentang konsepsinya.” Bab 23, Halaman 299. 

Menolak Berkat Imamat

Kalau kamu baca buku ini dari awal dan sampai di bagian ini, mungkin bisa disebut ini momen paling epic sekaligus menunjukan kalau dirinya benar-benar sudah bertransformasi, kalau di akhir buku Tara menyebutnya dengan istilah “Terdidik”. Keren!. 

Tara Westover menceritakan bahwa Ayahnya menganggap semua perubahan yang terjadi pada dirinya bukan sesuatu yang baik, malah Ayahnya menganggap bahwa hidup Tara telah diambil “lucifer”. Sehingga suatu saat Ayah dan Ibunya mendatangi Tara di Harvard untuk memberikannya berkat imamat sekaligus melakukan “pembersihan”. Tapi Tara berani menolak. 

“Ayah bilang punya hadiah untukku. “Itulah sebabnya aku datang,” katanya. “Untuk menawarimu berkat imamat.” Dalam Mormonisme, imamat adalah kuasa Tuhan untuk bertindak di bumi—untuk memberi nasihat, memberi penyuluhan, menyembuhkan yang sakit, dan mengusir setan. Imamat diberikan kepada anak laki-laki.” – Bab 36, Halaman 453

Saudara yang Bergantung Secara Ekonomi Kepada Orang Tua

Saat nenek Tara meninggal, dia ingin pergi ke Idaho untuk menghadiri pemakaman. Di pemakaman, Tara menyaksikan saudara-saudaranya berkumpul setelah sekian lama. Disaat itu Tara menyadari bahwa dirinya, Tyler, dan Richard sekarang semuanya memiliki gelar doktor, dan hidup mandiri, tetapi keempat saudara kandungnya yang lain dan pasangan mereka bekerja dan bergantung secara ekonomi kepada orang tuanya.

“Aku menyadari bahwa semua saudaraku, kecuali Richard dan Tyler, bergantung secara ekonomi pada orangtuaku. Keluargaku terpecah di tengah—tiga orang telah meninggalkan gunung dan empat orang tetap tinggal. Tiga anak dengan gelar doktor dan empat anak tanpa ijazah SMA.” – Bab 39, Halaman 486.

Insight yang Aku Dapat

Sumber gambar: vogue.com

Perubahan dan Pembaruan Pola Pikir

Di bagian awal Tara menjelaskan masa lalunya bahwa kehidupannya di pegunungan membuatnya tidak pernah akrab dengan perubahan, semua yang terjadi hanyalah siklus. 

“Aku telah terdidik dengan ritme pegunungan, ritme dimana perubahan tidak pernah menjadi fundamental, hanya sekadar sebuah siklus. Matahari yang sama akan muncul setiap pagi, menyapu lembah dan kemudian jatuh tenggelam di balik puncak gunung. Salju, yang turun di musim dingin, selalu mencair di musim semi.”

Setelah melihat perubahan yang Tara alami saat ini, bagian ini terasa sangat menginspirasi. Bagaimana pendidikan bisa begitu luar biasa dapat mengubah dan memperbarui cara berpikir seseorang, dan jika dimanfaatkan dengan benar dampaknya tidak hanya dapat mengubah depan, tetapi juga masa lalu kita lewat pembaruan pola pikir.

Pentingnya Rasa Ingin Tau

Tumbuh besar di pegunungan Idaho dari keluarga mormon yang konservatif dan tidak percaya pendidikan formal, sampai akhirnya bisa menempuh pendidikan tinggi di dua Universitas ternama dunia, Cambridge dan Harvard. Mencontohkan seberapa buruk keadaan kita, tidak bisa mendefinisikan apa yang terjadi dimasa depan. Semuanya mungkin terjadi.

“Benih rasa ingin tahuku telah tertanam; hanya waktu dan kebosanan yang dibutuhkannya untuk tumbuh.”

Hanya rasa ingin tau yang bisa membawa kita kepada hal-hal yang baru dan luar biasa, rasa ingin tau lah yang memberikan kita keyakinan untuk tidak membatasi diri terhadap apapun.  

Berani dan Percaya akan Kemampuan Diri Sendiri

“Sepanjang hidupku, naluri-naluri itulah yang telah mengajariku—mungkin akan lebih baik jika kau hanya mengandalkan dirimu sendiri.” 

Seberapa sering kita mencari validasi dan persetujuan dari orang lain, tanpa mempertimbangkan bahwa sebenarnya kita mampu dan cukup berbakat untuk memilih jalan kita sendiri?

Jangan biarkan diri kita menyerah hanya karena pendapat atau harapan orang lain, yang justru akhirnya menahan semua potensi yang kita punya.  

Kutipan Favorit

“Sepanjang hidupku, naluri-naluri itulah yang telah mengajariku—mungkin akan lebih baik jika kau hanya mengandalkan dirimu sendiri.” Bab 11, Halaman 153.

“Kita bisa menyebut pembentukan kepribadian ini dengan banyak istilah. Transformasi. Metamorfosis. Kepalsuan. Pengkhianatan. Aku menyebutnya pendidikan.” Bab 40, Halaman 490.

Kevin Evannanda Septian
Kevin Evannanda Septianhttp://punyaarti.com
Kevin is a Content Marketing Specialist with a degree in Marketing Management. He enjoys doing creative things, having been a blogger since 2013 and a songwriter whose works are shared on Instagram via IGTV's "Lagu Mingguan Kevin Evans."
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular